Hari semakin malam, masih saja ku tatap layar laptopku dengan akun facebook yang ku buka dan beberapa link lainnya. Memang, akhir-akhir ini aku sering sekali online, update dengan jejaring sosial tersebut sekedar menghilangkan penat setelah seharian di sibukkan dengan mata kuliah, kemacetan, padatnya jalanan ibukota yang setiap hari ku telusuri untuk menimba ilmu di sana. Seakan tak ada hal lain lagi yang dapat aku lakukan selain online dan seakan komputer jinjingku ini adalah teman setiaku yang bisa ku ajak kemana pun, kapan pun dan dimana pun. Entah kenapa aku seolah tak bisa lepas dari menjinjing tas kecil berisi laptopku. Mungkin karena rasa sepi yang selalu menyelimutiku aku melarikan diri pada teman setiaku itu. Ya, siapa lagi yang bisa menjadi tempat share selain dia? Hidup ku bagai hutchi si lebah yang hidup sebatang kara. Tak ada orangtua, yang ada hanyalah teman-teman yang dengan mereka bisa ku lupakan sejenak hal penat dalam otakku yang sesak ini. Kakak-kakakku? Seolah sibuk dengan kesibukan dan kebutuhan mereka masing-masing apalagi mereka telah berkeluarga tentu akan berbeda keadaannya. Pasti mereka memprioritaskan anak, suami dan istri mereka. Tuhan, hal apakah ini yang terjadi pada diriku? Kesepiankah yang akan terus Kau berikan padaku? Letih rasanya jika terus ku bergumam seperti itu. Harus ku lakukan adalah berpikir positif terhadap apa-apa yang telah Dia berikan padaku hingga detik ini ku bernafas dan berdiri tegak.
Banyak yang bilang bahwa aku adalah orang yang tidak banyak masalah, selalu senang, banyak uang, dan lain sebagainya yang jika ku pikirkan sama sekali tak sama dengan kehidupanku. Bukan aku tak bersyukur, tapi jika berbicara fakta ya itulah keyataannya. Tapi selalu ku ucap syukur padaNya dengan segala kerendahan hatiku. Terima kasih ya Allah Kau tak menunjukkan keletihan yang aku rasa selama ini kepada mereka. Alhamdulillah, semoga itu menjadi doa untuk diriku yang Kau ijabah. Aku selalu yakin dan optimis akan hidupku di masa depan, yang mana aku akan sukses dengan merintih dari bawah, merintis dari nol. Dari keadaan seperti ini lah akan ku dapat nikmat yang belum pernah ku rasa sebelumnya.
8 tahun sudah cukup membuatku mandiri, dewasa, tegar, menghargai apapun, menilai sesuatu dengan nilai positif, dan mengenal Penciptaku lebih dekat. Tuhan, kini ku tahu apa yang Kau mau. Kini ku tahu hikmah dari 8 tahun yang Kau berikan. Walau tak ada yang mengajarkanku arti kehidupan ini, tapi Kau, melalui kejadian-kejadian dalam hidupku mengajarkanku akan semua itu. Tak ada yang bisa membeli kenikmatan yang aku rasa saat ini. Walau SBY sekalipun atau Bill Gates yang berniat membeli, dan walau bisa di jual tak akan aku jual semua ini hanya demi kesenangan sesaat “uang”, yang menurut sebagian besar orang bisa membuat mereka bahagia dalam menjalani kehidupannya. Tak akan ku sia-siakan Rabb apa yang Kau beri, tak akan ku jual Rabb apa yang Kau gratiskan, tak akan ku lupa nikmat-nikmatMu itu.
aku bukanlah seorang yang patut di contoh, aku bukan pula orang yang patut untuk di kagumi, aku hanya seorang manusia yang sedang bertaubat atas kesalahan dan kebodohanku di masa lalu. Kesalahan yang tak perlu ku katakan di sini, kebodohan yang mungkin hampir setiap orang melakukannya. Dari kesalahan dan kebodohan itulah aku ingin memperbaiki diri dan ku mulai lagi hidupku dari awal.
Berawal dari masalah yang ku buat sendiri, ibarat ku gali lubang dan aku jatuh dalam lubang yang ku gali itu. Kejadian itu bermula dari aku yang mencuri-curi mengkhianati diriku. Bangunan yang ku bangun sejak lama aku runtuhkan sendiri. Berawal dari main-main, berlanjut mulai mengena ke hati, tapi ada masalah lain yang muncul. Pihak ketiga yang memperkeruh keadaan itu, ya ampun apalagi ini pikirku? Tak bolehkah aku mengurus urusanku sendiri, tak bisakah kamu diam sejenak dari celotehan-celotehanmu itu? Demi Rabbku, kamu begitu menyakitiku. Kecewa, pasti. Aku bukan orang yang bisa legowo terhadap orang yang telah mengecewakanku. Andai saja kamu tak begitu, pasti masalah yang kini ku hadapi tak akan terjadi. Kini ku harus menggali lagi lubang untuk menutupi lubang lainnya. Tapi bukan solusi yang ku dapat, tapi aku makin terperangkap di lubang yang berbeda ini. Kini, bertambah orang yang ku sakiti. Untuk yang merasa ku sakiti dengan apa pun sebesar apapun, maafkan aku. Tak ada niat sedikitpun untuk melukai hati kalian. Maaf beribu maaf aku lakukan hal ini. Maaf beribu maaf aku melibatkanmu dan seolah memanfaatkanmu dan seakan menjadikanmu pelarian yang berakhir dengan masalah baru dan rasa sakit yang baru.
Harapku disini, kalian lupakan aku. Maaf aku membohongi diriku, diri kalian, tapi aku tak bisa. Kecewa, aku yakin itu yang kalian rasakan. Mungkin mulai ada pikiran bahwa aku wanita yang hanya bisa menyakiti kalian, terserah apa kata kalian. Yang pasti selalu ada alasan dalam melakukan sesuatu walau alasan itu tak bisa kalian terima. Tak apalah.
Aku berterimakasih pada kalian yang dengan senang hati menyayangiku. Dan aku berterimakasih pada saudaraku karena kamu aku menjadi seperti ini. Merasa serba salah dan terjebak dalam hutan yang aku sendiri tidak tahu juga bingung untuk mencari jalan keluarnya. Aku berusaha untuk itu saudaraku. Walau amat letih aku melakoninya, walau dengan rasa pedih aku melaluinya, walau dengan kesedihan yang aku rasa saat ini. Maaf saudaraku jika sikapku kini berbeda. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan sakit ini, aku butuh waktu untuk sedikit melupakan kejadian itu. Jujur, aku belum bisa melupakan hal itu. Maaf. Aku juga manusia sama seperti kamu, tak bisa begitu saja ku kembali.
Teman-temanku yang selalu mendukung aku dengan apa yang aku lakukan, terimakasih. Teman yang membantu menguatkan aku dan mencari solusi dari masalah yang sedang ku hadapi terimakasih banyak atas sharingnya selama ini. Terimakasih kamu welcome. Aku memang butuh teman seperti mu, teman yang searah seperti mu. Selalu ku ucap terimakasih pada Allah, Tuhan Yang Esa, yang selalu memberi ‘kejutan’ dalam hidupku. Dan aku sadari ada hikmah di dalamnya walau butuh waktu untuk mencari apa hikmahnya.
Hidupku tentu lebih berwarna karena ada masalah yang selau hadir, karena selalu ada pro kontra, ada kalian –siapapun itu-. Syukurku atas nikmat hidup yang seperti ini. Walau aku amat merasa bersalah atas kejadian ini, tapi aku ‘puas’ karena banyak pelajaran yang dapat ku ambil. Apapun yang terjadi dalam hidupun, apapun ‘kejutan’ yang Allah beri itulah yang terindah dan terbaik untukku.
penulis
-imar-
Allah is the one N my lovely
umi dan abi adalah salah satu sumber kekuatanku
*inspirasi dari seseorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar