Indonesia, bumi yang amat ku cintai sekarang terpuruk lesu di manfaatkan banyak manusia-manusia yang haus akan kekuasaan. Bumi yang amat kaya dengan sumber daya alam di setiap jengkal tanahnya, di setiap meter kubik lautnya, dan di hamparan udara yang sejuk dengan rindangnya pepohonan. Aku selalu bermimpi, kapan Indonesia bangkit dari keterpurukan ini. Kapan Indonesia di pimpin oleh pemimpin-pemimpin yang tepat. Saat ini, pemimpin yang ada hanya memikirkan diri mereka sendiri. Memikirkan ‘kebusukan-kebusukan’ yang mereka sebarkan dimana-mana agar tak tercium banyak orang ya walau ada orang yang mengetahuinya tapi sebagian di nina bobokan. Sedih jika memikirkan derita bumi pertiwi ini. Wilayah yang luas, sumber daya manusia yang banyak, tapi sayang di pegang oleh penguasa yang tidak tepat.
Apa sebenarnya yang terjadi di bumiku ini? Bumi dimana aku di lahirkan, di besarkan, di didik. Dan apa yang harus aku lakukan dengan banyaknya yang menyimpang dari nilai-nilai ketimuran. Adakah orang yang masih memakai adat-adat timur? Zaman globalisasi seperti ini amat berdampak pada lingkungan di Indonesia. Globalisasi adalah arus yang membawa westernisasi yang berakibat pada tidak cinta dan bangganya seseorang pada bangsanya sendiri. Mereka lebih bangga jika menggunakan label BARAT, padahal kita adalah orang TIMUR, yang tidak sama nilai-nilai kehidupannya dengan mereka. Mungkin menurut mereka apa yang mereka lakukan adalah hal yang wajar, tapi belum tentu jika itu di lakukan di negeri yang kental dengan religius. Apa yang di pakai orang lain pantas bukan berarti jika di pakai oleh kita pun pantas. Setiap bangsa mempunyai karakterisitik, rasanya karakteristik jiwa-jiwa masyarakat Indonesia mulai pudar. Mana manusia Indonesia yang rela berkorban jiwa raga demi negaranya seperti orang-orang zaman dahulu? Mana rasa nasionalisme? Mana bukti cinta kita kepada negara? Kita selalu menuntut pemberian negara tapi apa kita sudah berkontribusi untuk negara ini?
Imperialisme sedang terjadi di bumi ini. Tapi bukan jajahan seperti 4 abad yang lalu. Kini jajahan itu berupa jajahan pemikiran. Kita terus di jejali dengan berbagam macam pemikiran-pemikiran yang mempengaruhi otak kita sehingga kita tidak lagi peduli dengan kemerdekaan yang sebenarnya di sini. Ya, kita di nina bobokan, kita di manja dengan teknologi canggih. Kita di buat tidak sadar bahwa itu merupakan jajahan, jajahan yang lebih berbahaya dari jajahan seperti zaman Belanda atau Jepang. Mereka di jejali dengan teknologi, makanan, fashion, dan yang lainnya. Berapa banyak orang yang bangga makan d KFC atau McD ke timbang makan di WARTEG atau RM.Padang? seolah makanan tradisional dan makanan khas Indonesia buat mereka adalah makanan yang ga banget, norak, ga gaul, kampungan, dan lainnya. Itulah tujuan dari FOOD, meracuni orang agar tidak cinta dengan hasil orang-orang di negerinya sendiri. Lalu FASHION, berapa banyak model pakaian yang tidak sesuai dengan budaya TIMUR? Tujuan mereka untuk meninabobokan para wanita dan membuat mereka bangga memakai produk luar, model pakaian artis Internasional juga gaya hidupnya, tak ada lagi aku rasa yang bangga dengan Indonesia. Miris melihat keadaan seperti ini. Anak muda apalagi, di cekoki dengan FOOD FILM FASHION, dan itu mudah sekali mereka terima. Melalui FILM, mereka dapat menanmkan nilai-nilai yang bertolak belakang dengan budaya timur semisal SEKS BEBAS.
Aku rasa ‘mereka-mereka’ itu berhasil meninabobokan sebagian besar masyarakat di sini. Mereka di bentuk untuk hidup bebas, tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, individualisme, glamour, etc. Mereka di nina bobokan agar tidak tahu keadaan dunia sebenarnya, dimana begitu kompleks masalah yang sekarang sedang terjadi. Mereka di buat nyaman dengan kehidupannya, mereka yang begitu banyak di ‘stir’ oleh beberapa orang saja. Betapa jeniusnya ‘mereka’. Seolah merekalah sutradara di dunia ini. Mengatur ini itu sesuai keinginan mereka. Fitnah sana sini, menghilangkan hak-hal yang benar dan menimbulkan hal-hal yang salah.
Lalu, apa solusinya? Solusi yang aku ajukan adalah kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan dua sumber hukum ini dunia akan sejahtera dan tidak akan ada lagi ketimpangan-ketimpangan yang di rasakan seperti sekarang. Al Qur’an ibarat buku manual manusia yang jika kita mengikuti petunjuk-petunjuk di dalamnya niscaya kita selamat. Ya ibarat kata merakit komputer tentu butuh panduannya, nah Al Qur’an inilah panduannya untuk hidup manusia menuju jalan yang benar. Al Qur’an bersifat universal, jadi jika ada yang bilang bahwa Al Qur’an hanya dapat di gunakan oleh Muslim itu salah besar. Namanya universal tentu berarti umum dan menyeluruh. Al Qur’an bukan panduan untuk Muslim saja tapi juga di luar itu. Manusia ibarat barang elektronik yang di ciptakan dengan buku manualnya dan jika rusak tentu harus di perbaiki dengan cara di serahkan pada ahlinya, sama halnya manusia jika ada yang ‘rusak’ harus di perbaiki oleh penciptanya, Allah, dengan cara Al Qur’an.
Wassalam
Jazakumullah
Semoga bermanfaat
Salam
-imar-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar