semakin anda mengeluh, semakin berat yang anda rasakan

Kamis, 18 November 2010

say YES or NO to PACARAN ?

Membicarakan pacaran memang tak ada habisnya. Ya meskipun tidak sedikit hal-hal negatif yang di hasilkan dari pacaran. Hamil di luar nikah, aborsi, atau yang lainnya sebagian besar berawal dari pacaran. Tidak menampik memang aku pun pernah pacaran. dengan begitu saya jadi tahu bagaimana pacaran dan indahnya saat berdua sampai ada orang yang di buat mabuk kepayang oleh cinta. Ternyata keindahan yang aku rasakan hanyalah fatamorgana yang sebenarnya itu adalah gurun yang panas yang semakin kita lama berasa di situ, semakin sinar matahari membakar kita. Bayangkan orang yang berkali-kali pacaran, ganti-ganti pasangan setiap minggu, bulan, tahun, begitu cepatkah rasa cinta yang timbul dalam hatinya? Begitu cepatkah ia melupakan orang yang baru kemarin ia cintai dan kasihi? Lalu bagaimana ia menjaga rasa cintanya itu agar utuh saat ia menjalani hubungan yang serius –pernikahan-? Kita seolah tak sadar bahwa itu adalah perbuatan yang mengikis pahala-pahala yang dengan susah payah kita kumpulkan. Adakah di antara kita yang menyadari hal tersebut? Adakah di antara kita yang mengingatkan temannya untuk menghindari dan menyudahi hal itu?

Jika di lihat kasat mata indah memang ada orang yang perhatian, sayang, dan sebagainya terhadap kita. Sebenarnya jika kita sadar betul bahwa cinta Allah itu lebih sempurna dan lebih indah tentulah kit tidak akan butuh cintanya orang yang tidak halal untuk kita. Miris jika aku melihat orang di sekitarku masih belum sadar akan keadaannya. Ia yang menjatuhkan harga dirinya sendiri, apalagi wanita. Dengan mudahnya mereka di sentuh, bahkan lebih dari itu, oleh pria. Murah sekali. Apa mereka tidak berpikir bahwa mereka amat mahal dan terlalu berharga di perlakukan seperti itu oleh pacarnya? Menurut aku, seorang pria yang mencintai wanita adalah ia yang menjaga kesuciannya dan untuk menyentuh wanita itu pun ia tidak akan mau karena saking sayangnya dan menjaga kesucian wanita yang ia sayangi. Apakah kamu setuju ? tapi kenyataan sekarang bagaimana ? bertolak belakang dengan pemikiranku. Menurutku, mereka berpikir bahwa pacaran adalah suatu sarana yang membolehkan pria dan wanita yang bukan mahrom untuk berkholwat, bersentuhan, saling menatap, dan sebagainya. Na’udzubillah. Jauhkan aku dari hal itu ya Allah.

Aku pun tak munafik bahwa aku pernah menyukai atau punya perasaan terhadap pria, dan itu hal yang wajar juga manusiawi, itu adalah fitrahnya manusia. Tapi yang jadi masalah adalah jika kita mengembangkan perasaan itu. Bagaimana mengatasinya ? salah satu cara yang jitu dan itu terbukti karena aku pun melakukannya yaitu dengan cara mendekatkan diri pada Allah dan mengharapkan cintaNya, aku yakin dengan cara seperti itu Allah akan menjaga kita dari penyakit hati. Saat kita mendapatkan cinta Allah, kita tidak akan butuh cinta yang tidak halal untuk kita. Karena tujuan kita adalah mendapatkan cintaNya Allah. Sering aku dengar, mereka mencintai Allah, menomor satukan Allah, tapi saat mereka di suruh memilih antara Allah atau pacar, tetap saja mereka berat untuk tidak memilih pacar dengan berbagai alasan. Cinta itu perlu bukti, jika kamu cinta Allah, ya buktikan. Wong kamu cinta sama pacar aja di buktikan, masa sama Allah yang begitu Pemurah terhadap dirimu ga kamu buktikan. Coba kamu hitung, lebih besar mana pemberian Allah apa pemberian pacar kamu ? kalau pacar kamu memberikan lebih dari pemberian Allah, silakan kamu pilih pacar kamu. Tapi jika sebaliknya, tinggalkan ia. Kenapa? Demi Allah, karena kamu bilang Allah is Number One. Tapi mana buktinya? Cuma di mulut? Bukankah orang yang hanya bicara tanpa ada pembuktian itu salah satu tanda orang munafik? Bagaimana mungkin Allah semakin sayang dan cinta terhadap kita jika kita mengkhianati Allah dengan menduakannya dengan pacar? Makin panjang nih masalah, menduakan Allah berarti musyrik. Nah lho. Jadi pacaran itu banyak untungnya apa ruginya ya kalau begitu? Di pikir saja masing-masing.

Allah telah mengilhamkan pikiran pada manusia, dan gunakan sebaik mungkin, salah satunya untuk memikirkan hal ini. Kecil memang, tapi justru yang kecil itu yang akan berdampak besar apalagi terus menerus di lakukan, gimana ga numpuk tuh dosa? Paling tidak setiap hari pasti yang punya pacar berkomunikasi sama pacarnya, nah itu udah bisa di sebut zina lho. Zina hati. Selalu memikirkan, membayangkan, padahal dia belum atau tidak halal untuk di pikirkan, di bayangkan. Na’udzubillah. Ternyata jika kita jeli banyak yang tidak baik ya dari hubungan yang tanpa dasar itu. Satu lagi, jika kita pacaran sampai menikah nanti apa jadinya rumah tangga kita? Ikatan suci di awali dengan hal yang tidak ada sama sekali dasar dan perintahNya. Apa mungkin rumah tangga kita nantinya akan sakinah mawaddah warahmah? Apa iya sesuatu yang di awali dengan yang tidak baik akan menghasilkan yang baik? Jika itu di lakukan, bagaimana nasib anak kita? Apa kita tidak khawatir jika nanti ia pun mengikuti jejak orang tuanya, yaitu pacaran? apa kita tidak khawatir jika anak kita pacaran akan ke lewat batas dan membuat malu nama keluarga? Mencoreng kehormatan keluarga juga dia? Apa kita sebagai orang tua nantinya tidak malu dan tidak terbebani? Subhanallah ternyata rantainya sebegitu jauhnya. Jangan hanya memikirkan perasaan saat ini.

Rasa cinta yang di karuniakan oleh Allah bukan untuk di gunakan untuk pacaran, bukan untuk di jadikan tameng bahwa pacaran itu boleh karena setiap manusia punya rasa cinta yang telah Allah berikan. Rasa cinta ini harus di tempatkan pada tempatnya, semua ada waktunya. Jika kita belum siap untuk menikah, ya jangan dulu mencari-cari pasangan. Nikmatilah kesendirian dan kebebasan sebelum memikul tanggung jawab yang lebih besar nanti. Semua akan indah pada waktunya, kita hanya perlu bersabar untuk menunggu waktu yang tepat. Kan ga seru kalau kita nikah sama mantannya teman kita. Kita harus jadi yang pertama dan yang terakhir untuk pasangan kita kelak. Jangan Cuma jadi yang pertama atau jadi yang terakhir, jadi keduanya dong. Itu baru mantap.

Jangan berharap kita mendapatkan yang terbaik jika kita belum baik. Semua itu di awali dari diri kita. Jika kita ingin yang baik, maka yuk ubah diri kita menjadi insan yang di ridhoi Allah. Semua butuh proses, pelan-pelan, seperti saat kita masih bayi, dari mulai merangkak sampai bisa berjalan semuanya butuh proses. Begitu pun kita sekarang. Sebaik-baiknya manusia, masih ada celah untuk menjadi manusia yang jahat. Dan sejahat-jahatnya orang jahat masih ada celah untuk menjadi orang yang baik. Jadi, jangan pesimis. Ayo kita jalan sama-sama. Kita rintis hidup kita dari awal, kita buat peta hidup kita, mau di bawa kemana nih hidup kita, surgakah? Nerakakah? Surga itu ga gratis. Butuh perjuangan. Wong minta uang ama bapak aja butuh perjuangan, apalagi minta surga. Jangan harap dapat apa yang kita mau jika kita tidak mau berusaha untuk mendapatkannya.

Allah itu udah kasih jalan, nih jalan yang baik jalan ke surga, nih jalan buruk jalan ke neraka, terserah lu pada mau pilih yang mana, gua mah Cuma ngunjukin doang. Istilahnya kan kayak gitu. Allah tuh nyerahin semuanya ama kita. Lha kalau kitanya aja ga mau di ajak ke jalan yang bener, ngapain juga Allah repot-repot maksa lu lu pada ke jalan yang bener? Ga ada ruginya buat Allah mah. Malah kita dah yang rugi. Wong kita yang butuh Allah, bukan sebaliknya. Kan Allah udah bilang di Al Qur’an “tidak akan Aku ubah umatKu sebelum mereka mengubah hidupnya sendiri”. Nah Lho, kalau tar kita masuk neraka jangan maen salah-salahan nanti. Kan udah di kasih tau, udah di unjukin jalannya. Sekarang terserah kamu deh mau yang mana, bahagia apa sengsara. Sengsara di dunia mah gapapa, daripada sengsara di akherat. Akherat mah kekal coy, kalau kita ke neraka yaudah diem aja dah di situ nemenin si syaiton ama iblis, jangan-jangan tar jadi bahan bakarnya lagi. Naudzubillah dah. Jauh-jauhin ya Allah, udah jelek di dunia masa di akherat mau jelek juga. Udah susah di dunia, masa di akherat susah juga. Eeet dah abadi banget susahnya atuh kalau gitu caranya mah. Renungkan !

Penulis

-imar-

*terinspirasi dari 'kehebohan' yang terlihat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar